sudah setumpuk kisah terabaikan
untuk ku abadikan. Aku terlalu bahagia sayang, hingga tak dapat lagi menulis
dengan jemari ku. Mungkin memang benar, kebahagiaan itu tidak perlu dituliskan,
cukup dirasakan, disimpan dalam ingatan, dan dikenang ketika membutuhkan. Jari ku
akhir akhir ini tidak begitu lincah, entah mengapa aku lebih mudah menulis dalam
keadaan sedih.
Jemariku kini sangat butuh
pemanasan sayang, tapi entah apa yang akan ku tuliis. Aku tidak ingin
menuliskan kebahagian ku pada apapun, aku tidak ingin menceritakan kebahagianku
pada sapapun, seakan tak ingin kubagi dengan sapapun. Maaf aku terlalu egois.
Entah, kadang terbesit rasa cemburu yang berlebih, meluap disaat
yang tidak tepat. Tapi kamu selalu punya kejutan-kejutan manis serupa cocohip
berwarna-warni yang tak kalah oleh keindahan pelangi.
Malam itu kau temui aku dan meminta
aku mendampingi mu menyusuri jalan kota yang tak pernah lenggang, kau ajak aku
untuk membeli sebuket bunga. Terbesit kebahagian, kau menanyakan bunapa yang
aku suka, “sebuket mawar jawabku tenang, sambil menyembunyikan rasa bahagiaku
yang meluap.
Kini kejutan mu begitu tak
kuharapkan, kau ajak aku untuk kembali pulang menuju kos, karena terlalu malam.
Jujur saja, saat itu masih tepat puku 17.30. apa mungkin itu terlalu malam?
Tapi kini aku mengakui, ada rasa
kecewa yang terlintas dan tidak dapat ku sembunyikan. Tetapi kmu tetap diam
seakan tak terjadi apap-apa.
Aku berusaha berfikir positif,
mungkin kau menyuruh orang lain utuk mengantarkan buket mawar selagi kamu tidak
disampingku.. kamu lebih memilih tidak menjelaskan apapun dan mengantarku
kembali ke kos.
Amarah diubun-ubun ini mulai
memuncak, ku tutup kamar dan lebih memilih untuk tidur lebih awal,
Entahlah.
Belum sempat terlelap, hp berdering
hingga mengejutkan ku, panggilan masuk dari ibu, ku angkat dan mulai menyapa
riang. ibu mulai bercerita, setidaknya cerita itu mampu memberikan penjelasan.
Ibu mengatakan bahwa tepat pukul
8 malam kamu datang kerumahku dan memberikan sebuket mawar putih dan pink untuk ibu ku. Ibu mempersilahkan
mu singgah, setidaknya melenggangkan otot ototmu yang tegang dalam perjalanan
menuju rumahku. Entah apa yang terbesit di pikiranmu, hingga kau lebih memilih
memberikan sebuket mawar untuk Ibu dari kekasihmu, bukan kah harusnya aku yang
mendapatkan itu?
Aku semakin tidak mengerti. Entah
apa yang membuat ku sangat emosi saat itu cemburu rasanya pun tidak
mungkin, hingga kupencet nomor telpon mu
dengan menahan luapan kemarahanku.
Belum sempat kamu mengucap salam,
aku sudah memuntahkan amarahku, tanpa jawaban kau memilih diam dan sesekali
terdengar lirih suara tawamu.
Saat itu aku ingin protes pada
tuhan, mengapa Kau hadiahku seorang sepertimu, yang tertawa ketika kekasihmu
sedang menahan marah dan tangis.
Aku pun lelah dan terdiam, aku
merasa sia-sia memprotesmu sebegitu kuatnya. Tanpa menunggu amarahku meluap
lagi, kau katakan sebuah kata2 yang
membuatku menangis, kali ini bukan lagi menangis karena amarah, ini karena rasa
syukur ku memiliki kamu. Masih teringat jelas kata-kata itu
“ini ucapan terimakasihku untuk ibumu. Aku lebih mencintai ibumu yang
hingga kini mampu menjaga dan merawatmu dengan baik”
Entah tanganku secara tiba-tiba
menekan tombol untuk mengakhiri teleponmu. Walau suara mu telah terputus dari
kejauhan, tetap saja air mata kebahagiaan masih menetes dipipi.
Tanpa sengaja aku melihat
kalender yang menempel di tembok kamar dan aku ingat bahwa subuh tadi aku telah menelpon ibu dan mengucapkan doa selamat ulang tahun., entah sebegitu sibuknya aku hingga aku tidak mengingat apapun yang telah kulakukan hari itu