Kamis, 24 Juli 2014

Buket Mawar


sudah setumpuk kisah terabaikan untuk ku abadikan. Aku terlalu bahagia sayang, hingga tak dapat lagi menulis dengan jemari ku. Mungkin memang benar, kebahagiaan itu tidak perlu dituliskan, cukup dirasakan, disimpan dalam ingatan, dan dikenang ketika membutuhkan. Jari ku akhir akhir ini tidak begitu lincah, entah mengapa aku lebih mudah menulis dalam keadaan sedih.
Jemariku kini sangat butuh pemanasan sayang, tapi entah apa yang akan ku tuliis. Aku tidak ingin menuliskan kebahagian ku pada apapun, aku tidak ingin menceritakan kebahagianku pada sapapun, seakan tak ingin kubagi dengan sapapun. Maaf aku terlalu egois.
Entah, kadang terbesit  rasa cemburu yang berlebih, meluap disaat yang tidak tepat. Tapi kamu selalu punya kejutan-kejutan manis serupa cocohip berwarna-warni yang tak kalah oleh keindahan pelangi.
Malam itu kau temui aku dan meminta aku mendampingi mu menyusuri jalan kota yang tak pernah lenggang, kau ajak aku untuk membeli sebuket bunga. Terbesit kebahagian, kau menanyakan bunapa yang aku suka, “sebuket mawar jawabku tenang, sambil menyembunyikan rasa bahagiaku yang meluap.
Kini kejutan mu begitu tak kuharapkan, kau ajak aku untuk kembali pulang menuju kos, karena terlalu malam. Jujur saja, saat itu masih tepat puku 17.30. apa mungkin itu terlalu malam?
Tapi kini aku mengakui, ada rasa kecewa yang terlintas dan tidak dapat ku sembunyikan. Tetapi kmu tetap diam seakan tak terjadi apap-apa.
Aku berusaha berfikir positif, mungkin kau menyuruh orang lain utuk mengantarkan buket mawar selagi kamu tidak disampingku.. kamu lebih memilih tidak menjelaskan apapun dan mengantarku kembali ke kos.
Amarah diubun-ubun ini mulai memuncak, ku tutup kamar dan lebih memilih untuk tidur lebih awal,
Entahlah.
Belum sempat terlelap, hp berdering hingga mengejutkan ku, panggilan masuk dari ibu, ku angkat dan mulai menyapa riang. ibu mulai bercerita, setidaknya cerita itu mampu memberikan penjelasan.
Ibu mengatakan bahwa tepat pukul 8 malam kamu datang kerumahku dan memberikan sebuket mawar putih dan pink untuk ibu ku. Ibu mempersilahkan mu singgah, setidaknya melenggangkan otot ototmu yang tegang dalam perjalanan menuju rumahku. Entah apa yang terbesit di pikiranmu, hingga kau lebih memilih memberikan sebuket mawar untuk Ibu dari kekasihmu, bukan kah harusnya aku yang mendapatkan itu?
Aku semakin tidak mengerti. Entah apa yang membuat ku sangat emosi saat itu cemburu rasanya pun tidak mungkin,  hingga kupencet nomor telpon mu dengan menahan luapan kemarahanku.
Belum sempat kamu mengucap salam, aku sudah memuntahkan amarahku, tanpa jawaban kau memilih diam dan sesekali terdengar lirih suara tawamu.
Saat itu aku ingin protes pada tuhan, mengapa Kau hadiahku seorang sepertimu, yang tertawa ketika kekasihmu sedang menahan marah dan tangis.
Aku pun lelah dan terdiam, aku merasa sia-sia memprotesmu sebegitu kuatnya. Tanpa menunggu amarahku meluap lagi,  kau katakan sebuah kata2 yang membuatku menangis, kali ini bukan lagi menangis karena amarah, ini karena rasa syukur ku memiliki kamu. Masih teringat jelas kata-kata itu
“ini ucapan terimakasihku untuk ibumu. Aku lebih mencintai ibumu yang hingga kini mampu menjaga dan merawatmu dengan baik”
Entah tanganku secara tiba-tiba menekan tombol untuk mengakhiri teleponmu. Walau suara mu telah terputus dari kejauhan, tetap saja air mata kebahagiaan masih menetes dipipi.
Tanpa sengaja aku melihat kalender yang menempel di tembok kamar dan aku ingat bahwa subuh tadi aku telah menelpon ibu dan mengucapkan doa selamat ulang tahun., entah sebegitu sibuknya aku hingga aku tidak mengingat apapun yang telah kulakukan hari itu 

Rabu, 27 November 2013